Revell 1/144 F/A18D Hornet (Sold Out)

Sold Out
  • Revell 1/144 F/A18D Hornet
    Revell 1/144 F/A18D Hornet
  • Revell 1/144 F/A18D fuselage
    Revell 1/144 F/A18D fuselage
  • Revell 1/144 F/A18D landing gear
    Revell 1/144 F/A18D landing gear
  • Revell 1/144 F/A18D weapons
    Revell 1/144 F/A18D weapons

Perkembangan teknologi begitu pesat, tapi mengapa sampai saat ini belum ada forward swept wing (FSW) fighter operasional?

Ternyata ini ada hubungannya dengan F/A-18 Hornet.

Secara teoritis FSW mampu melakukan manuver ekstrim berkat spanwise flow yang mengalir kedalam menuju fuselage. Hal ini menjaga bidang kontrol tetap efektif pada AoA tinggi. Beberapa perhitungan juga mengindikasikan reduksi drag saat terbang normal. Masalahnya kestabilan statis FSW cukup rendah, akan sangat sulit dikendalikan dengan cara biasa. Selain itu wingtip FSW bisa melengkung keatas karena tekanan aerodinamis, meningkatkan AoA. AoA wingtip membesar, lift juga akan membesar, membuat wingtip melengkung keatas lebih jauh lagi. Kondisi ini bisa berlanjut terus dan berpotensi mematahkan sayap di udara.

Walau terlihat mustahil, Amerika pernah berhasil membuat pesawat FSW seukuran fighter, yaitu X-29. Sayap X-29 didisain dengan composite tailoring yang membuat wingtip melengkung kebawah saat ada tekanan aerodinamis keatas, memberikan gaya penyeimbang kebawah yang bisa mencegah sayap patah saat terbang. Ketidakstabilan FSW berhasil dijinakkan dengan Fly by Wire. Hasilnya X-29 berhasil terbang, dan memiliki manuverabilitas jarak dekat superior. Sampai titik ini masa depan terlihat cerah bagi FSW, kesulitannya sudah bisa diatasi dan performa bagus. Kemudian X-29 harus diuji melawan fighter standar pada masa itu untuk mengetahui sejauh mana keunggulannya terhadap teknologi konvensional.

Kelebihan utama FSW adalah manuverabilitas jarak dekat. Jadi dipilihlah F/A-18 Hornet, fighter sayap konvensional dengan manuverabilitas jarak dekat terbaik yang dimiliki Amerika saat itu sebagai lawan tanding X-29. Single engine fighter dengan sayap eksotik vs twin engine fighter berat dengan sayap konvensional. Banyak yang berharap X-29 bisa menang mudah seperti saat F-16 diuji melawan F-4. NASA mendokumentasikan uji terbang ini dengan sangat baik dalam e-book Sweeping Forward yang bisa (semoga masih bisa) didownload di website mereka. Singkatnya X-29 adalah fighter yang bagus, tapi tidak punya keunggulan signifikan saat diuji melawan F/A-18 Hornet. Ada banyak hal positif yang bisa diambil dari proyek X-29, tapi FSW bukan salah satunya. Jika saja saat itu lawannya bukan Hornet, mungkin X-29 masih mampu menunjukkan superioritas manuver jarak dekat khas FSW.

Pertanyaannya bagaimana naval fighter berat bermesin ganda bisa mengimbangi X-29? 

F/A-18 adalah fighter yang dikembangkan dari YF-17, kompetitor YF-16 dalam kompetisi LWF. Para perancang YF-17 harus memutar otak ekstra agar twin engine fighter mereka bisa bersaing dengan YF-16 yang bermesin tunggal. Salah satu resepnya adalah reduksi kestabilan statis untuk mempertajam respons pesawat. Ketidakstabilan yang timbul dari metode ini dijinakkan dengan FBW. YF-17 juga dilengkapi LERX (Leading Edge Root eXtention) besar untuk membantu kontrol pesawat pada AoA tinggi. Hasilnya adalah fighter yang relatif berat, tapi bisa bermanuver ketat pada AoA tinggi.

Mesin F404 milik Hornet punya kehandalan tinggi. Sebagai gambaran, Gripen hanya memakai satu mesin F404, dan aman untuk bertugas di daerah arktik yang ganas. Jika satu F404 sudah sehandal itu, apalagi dua mesin milik Hornet.       

Kode F/A pada Hornet berarti pesawat ini mampu menjalankan peran sebagai fighter dan attacker sekaligus. Sejak awal Hornet didisain dengan avionik untuk melaksanakan kedua fungsi tersebut. Radar yang dibawa Hornet mampu mendeteksi target udara dan darat secara optimal. Kokpit Hornet juga didisain ergonomis dengan sistem HOTAS, artinya pilot bisa mengontrol hampir semua fungsi pesawat dari control stick dan throttle saja. Disain ini sangat membantu pilot melaksanakan misi udara dan darat dengan fleksibel.

Hornet bisa membawa hampir semua persenjataan air-to-air dan air-to-ground milik US NAVY dan USMC. Sebut saja Sidewinder, Sparrow, AMRAAM, Harpoon, Maverick, HARM, dan berbagai bom jatuh bebas maupun berpemandu laser/satelit. Tersedia 9 pylon untuk membawa persenjataan tersebut. Dalam konfigurasi tertentu, Jumlah persenjataan yang bisa dibawa Hornet luar biasa banyak. Contohnya wing pylon dapat dipasangi twin launcher untuk AMRAAM. Sehingga sebuah Hornet pernah terlihat membawa 2 sidewinder di wingtip dan 10 AMRAAM!!!!! .   

F/A-18 C/D adalah pengembangan dari F/A-18 A/B. Secara fisik hampir tidak ada perbedaan yang terlihat di luar. Pengembangan pada C/D difokuskan pada kemampuan pertempuran malam. C/D mampu membawa FLIR pod, dan pencahayaan kokpit didisain NVG compatible. Tipe D adalah varian kursi dua yang full combat capable. Back seater sangat berguna sebagai weapons system operator pada misi air-to-ground yang kompleks. Selain itu back seater juga berperan penting untuk mengarahkan serangan dengan presisi dalam misi FAC(A) /Forward Air Controller-Airborne.

Hornet jelas bukan fighter yang sempurna. Keinginan untuk bisa melakoni semua misi butuh kompromi yang menyebabkan kelemahan di banyak aspek. Salah satu yang paling signifikan adalah fuel fraction yang terlalu rendah. Hornet membawa lebih sedikit bahan bakar per berat pesawat daripada fighter lain di kelasnya. Bahan bakar yang sedikit ini harus dibagi ke dua mesin, menyebabkan jarak terbang Hornet tergolong pendek. Hal ini adalah masalah serius mengingat jarak adalah pertahanan sekaligus penyerangan kapal induk. Kapal induk akan memenangkan pertempuran saat bisa menemukan dan menetralisir musuh pada jarak lebih jauh dari jangkauan musuh. Dan jarak tersebut ditentukan oleh jangkauan pesawatnya. Semakin pendek jangkauan pesawat maka kemungkinan kapal induk untuk mendeteksi musuh lebih dulu semakin kecil. Selain itu bobot pendaratan maksimum Hornet termasuk kecil. Sehingga Hornet tidak bisa mendarat dengan membawa banyak bahan bakar dan persenjataan sisa. Konsekuensinya persenjataan mahal yang tidak terpakai dalam pertempuran harus dibuang sebelum mendarat. Dan yang lebih berbahaya lagi pilot Hornet hanya bisa mendarat dengan sedikit sisa bahan bakar, mengurangi jumlah pengulangan pendaratan gagal yang bisa dilakukan. 

Kelemahan tadi direncanakan diperbaiki oleh F/A-18E/F Super Hornet yang lebih besar. Super Hornet mampu mendarat dengan sisa bahan bakar dan persenjataan lebih banyak dari Hornet. Super Hornet juga membawa lebih banyak bahan bakar dalam airframe yang lebih besar. Namun sayangnya penambahan jarak yang berhasil dilakukan tidak signifikan karena bobot dan ukuran Super Hornet yang membengkak. Selain itu untuk memastikan weapons separation yang aman, wing pylon Super Hornet terpaksa dipasang melebar keluar, menambah drag yang mereduksi jarak dan kecepatan maksimum. Sehingga walau secara keseluruhan ada peningkatan, tapi di beberapa aspek Hornet tetap lebih baik dari Super Hornet. Hal ini mungkin salah satu sebab mengapa Kanada baru-baru ini berencana membatalkan pesanan Super Hornet-nya dan malah membeli Hornet bekas Australia.   

Revell 1/144 F/A-18D Hornet

Revell 1/144 F/A-18D adalah kit skala 1/144 yang detail dan kompleks. Kit ini terdiri dari dua sprue reguler besar dan satu clear sprue untuk canopy. Revell menjelaskan tahapan perakitan dengan jelas dalam 21 langkah, bahkan lebih kompleks dari kit 1/72 biasa.

Kokpit kit 1/144 ini tergolong detail, terdiri dari cockpit tub, ejection seat, control stick, dan instrument panel terpisah. Ejection seat dicetak dalam satu part, tapi dengan bentuk yang cukup baik, terutama dalam skala 1/144. Dengan perakitan dan pengecatan yang tepat, kokpit akan terlihat sangat detail dari luar. Windshield dicetak terpisah dari canopy, mempermudah pembuatan pose canopy terbuka, tentu saja dengan scratch build mekanisme pembukaan canopy.

Part breakdown pada kit ini terlihat bagus, seimbang antara kemudahan perakitan dan molded detail. Panel line beraliran recessed yang tajam dan konsisten. Sayap dicetak dalam posisi terbang. Ini adalah berita bagus mengingat detail wing fold memang terlalu halus di skala 1/144 untuk bisa dicetak dengan baik menggunakan styrene. Sisi samping mesin beserta fuselage station dicetak dalam part terpisah untuk detail lebih tajam. Exhaust petal terlihat bagus dan dicetak cukup tipis.

Detail internal landing gear bay dicetak cukup bagus. Landing gear Hornet yang kokoh juga terlihat cukup bagus di kit ini. Landing gear door dicetak menyatu untuk mempermudah pembuatan pose terbang. Landing gear door bisa dipotong dengan mudah dengan panduan instruction sheet yang jelas untuk membuat konfigurasi di darat.

Secara jujur kelemahan kit ini ada di rudal nya. Secara overall Hornet dicetak dengan detail luar biasa bagus. Centerline drop tank dan wing pylon dicetak dengan detail memuaskan. Dua sensor pod pada fuselage station juga dicetak cukup bagus. Sayangnya kualitas rudal yang disertakan tidak sebagus komponen-komponen lainnya. Revell menyediakan Sidewinder, Harpoon, HARM, dan Maverick untuk mengisi penuh semua pylon Hornet. Namun sayangnya fin setiap rudal dicetak terlalu tebal, dan tidak dilengkapi decal marking. Tapi disinilah seru nya hobby mokit. Modeler tetap dapat memodifikasi sendiri bentuk rudal sesuai referensi masing-masing. Justru ada kebanggaan tersendiri saat berhasil melakukannya. Alternatif lainnya adalah memanfaatkan sisa load out dari kit Dragon 1/144 F-5/F-14/F-18 E/F. Kit Dragon tersebut biasanya dilengkapi rudal/bom detail yang sangat banyak.

Kejutan berikutnya dari Revell adalah decal sheet besar, sebesar decal sheet 1/72 biasa. Tersedia dua pilihan marking VMFA(AW)-224 yang hi-viz dan VFA-125 yang lebih sederhana.

Overall Revell 1/144 F/A-18D ini cocok untuk modeler yang tidak punya lemari besar untuk memajang model. Ukurannya kecil, tapi cukup kaya akan detail. Tantangan kit ini adalah rudal yang kurang detail, bisa diatasi dengan membuat konfigurasi clean, modifikasi rudal bawaan, atau memanfaatkan sisa dari kit lain. Jika dibuat dengan teliti dan sabar, kit ini bisa menjelma jadi model kecil tapi berkulitas tinggi.