Hobbyboss 1/350 K141 Kursk (Sold Out)

Sold Out
  • Hobbyboss 1/350 Kursk
    Hobbyboss 1/350 Kursk
  • Hobbyboss 1/350 Kursk hull
    Hobbyboss 1/350 Kursk hull
  • Hobbyboss 1/350 Kursk missile hatch
    Hobbyboss 1/350 Kursk missile hatch
  • Hobbyboss 1/350 Kursk stern
    Hobbyboss 1/350 Kursk stern
  • Hobbyboss 1/350 Kursk parts
    Hobbyboss 1/350 Kursk parts
  • Hobbyboss 1/350 Kursk missiles
    Hobbyboss 1/350 Kursk missiles
  • Hobbyboss 1/350 Kursk PE
    Hobbyboss 1/350 Kursk PE

Armada kapal induk nuklir US NAVY punya kekuatan massif. Puluhan pesawat kombatan tersedia untuk melakukan beragam misi seperti air superiority, interdiction strike, reconnaissance, dll. Kapal induk nuklir bisa memproyeksikan kekuatan tidak hanya di laut, tapi jauh ke daratan, jauh kedalam territorial sebuah negara. Namun Amerika harus membayar sangat mahal untuk kemampuan ini. Harga kapal induk nuklir sangat mahal, biaya operasional selangit, dan perlu diawaki ribuan orang. Belum lagi asset strategis tersebut harus dikawal oleh armada cruiser, destroyer, dan kapal selam. 

Uniknya, Soviet sebagai seteru terbesar Amerika tidak berniat menandingi kehebatan armada kapal induk nuklir US NAVY. Soviet bahkan tidak punya satupun kapal induk nuklir, hanya dilengkapi beberapa kapal induk konvensional saja. Sebagai gantinya Soviet mengembangkan berbagai jenis Anti Ship Cruise Missile (ASCM) raksasa, berukuran lebih besar dari rudal serupa milik barat karena memang bertujuan untuk melumat kapal induk. Tersedia ASCM untuk diluncurkan dari bomber, kapal permukaan (bahkan kapal induk Soviet dilengkapi sederet tabung raksasa peluncur ASCM), dan juga kapal selam.

Oscar II adalah kelas kapal selam Soviet yang dilengkapi ASCM raksasa untuk melumat kapal induk nuklir. Kapal selam ini dibekali 24 rudal P-700 Granit/SS-N-19 Shipwreck. Granit berukuran besar, tidak bisa diluncurkan dari tabung torpedo, bahkan tabung tabung torpedo berat 650mm sekalipun. Rudal raksasa ini dibawa dalam tabung yang dipasang miring di dalam lambung. Tersedia 12 tabung peluncur di sisi kanan dan kiri, ditutup rapi dengan 6 pintu besar.

Kapal selam seperti Oscar II beroperasi dengan senyap, sangat sulit dideteksi, sehingga punya potensi besar sebagai platform peluncur rudal. Granit bisa diluncurkan saat Oscar II menyelam. Bayangkan rudal raksasa tiba-tiba muncul dari bawah permukaan laut, dari posisi yang tidak terduga, meluncur ke targetnya dengan kecepatan supersonic sambil membawa hulu ledak berat. Jangkauan ASCM termasuk jauh, beberapa ratus kilometer, bayangkan berapa luas area yang harus dijaga oleh sistem anti kapal selam pengawal kapal induk. Selain senyap, lambung Oscar II juga dibuat dari campuran baja khusus dengan magnetic signature sangat rendah, menurunkan efektifitas Magnetic Anomaly Detector (MAD) secara signifikan. Mungkin itu salah satu penyebab pesawat maritim terbaru US NAVY, P8 Poseidon, tidak lagi dilengkapi MAD.

Masalahnya kapal selam akan kesulitan untuk mendeteksi sendiri kapal induk pada jarak optimum ASCM yaitu beberapa ratus km. Proses pendeteksian semakin sulit karena kapal induk bisa melaju cepat, lebih dari 30 knots. Oscar II memang bisa dibawa ngebut diatas 30 knots, tapi dengan kecepatan tinggi ini pembacaan sensor semakin sulit dan lebih parahnya lagi noise yang dihasilkan beresiko membuka posisi kapal selam. Solusinya Oscar II dibekali kemampuan untuk menerima targeting information dari sistem lain, bisa dari pesawat intai maritim, satelit RORSAT/EORSAT, atau dari elemen lainnya. Setiap sistem punya kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pesawat intai maritim bisa menyediakan informasi akurat secara realtime, namun rawan disergap Tomcat yang punya supersonic persistence dan rudal jarak jauh Phoenix. Setelah Tomcat pensiun, penerusnya tidak mewarisi kemampuan ini, pesawat intai maritim Russia mungkin bisa beroperasi lebih santai. Sementara RORSAT/EORSAT beroperasi di tempat yang aman, hanya bisa dijangkau dengan rudal ASAT saja. Masalahnya satelit beredar pada orbitnya dan tidak punya kemampuan untuk segera bergerak ke posisi yang dibutuhkan. Perlu waktu untuk mendapatkan estimasi posisi dan pergerakan kapal induk. Informasi yang diberikan ke Oscar II tidak realtime, dengan kecepatan 30 knots dan manuver tajam posisi kapal induk bisa meleset jauh dari perkiraan. Pergerakan satelit juga bisa diprediksi, kapal induk bisa mengambil jalur untuk menghindari deteksi atau mempersulit estimasi pergerakan. 

Granit bukan satu-satunya persenjataan Oscar II. Walau kemampuan manuvernya tidak istimewa, konon Oscar II termasuk sangat senyap. Kapal selam ini dilengkapi tabung torpedo 533mm dan 650mm untuk jarak dekat. Selain bisa meluncurkan torpedo berat, tabung 650mm juga bisa meluncurkan rudal anti kapal jarak dekat.

Kemampuan torpedo berat 650mm tidak bisa dipandang sebelah mata. Torpedo ini membawa cukup banyak peledak untuk menenggelamkan kapal induk, dan ironisnya senjata ini pula yang dicurigai menenggelamkan salah satu Oscar II, K-141 Kursk. Oscar II termasuk system senjata inti yang dipelihara dengan cukup baik oleh Russia setelah Soviet runtuh, dan Kursk adalah salah satu dari sedikit kapal yang diperbolehkan membawa rudal/torpedo aktif saat latihan di laut Barents. Bencana dimulai saat Kursk bersiap menembakkan torpedo 650mm. Torpedo yang ditembakkan adalah untuk latihan, tidak dilengkapi warhead, tapi dilengkapi propelan agar bisa meluncur seperti torpedo aktif. Nahas bagi seluruh awak Kursk, propelan hydrogen peroxide merembes keluar dan meledak. Ada beberapa teori penyebab bocornya propelan tadi, bisa karena kualitas produksi torpedio latihan yang dibawah torpedo aktif, handling saat loading, ataupun awak yang belum terbiasa mengoperasikan torpedo baru. Ledakan pertama tadi cukup besar untuk memicu warhead torpedo aktif lain yang dibawa kursk. Menghasilkan ledakan kedua yang jauh lebih besar sampai terbaca di sensor seismik Eropa utara dan Alaska. Sebagian besar awak Kursk gugur dalam ledakan tersebut. Sebagian kecil berhasil bertahan di kompartemen belakang, tapi mereka gagal diselamatkan. Tragedi ini seharusnya mengingatkan kembali tentang bahaya operasi kapal selam, dan prosedur lebih baik perlu diterapkan untuk mencegah bencana serupa.     

Hobbyboss 1/350 K-141 Kursk

Kit ini termasuk kompleks untuk ukuran kapal selam. Sebagian besar kompleksitas berasal dari missile hatch yang bisa dibuka. Didalamnya tersedia seluruh 24 missile tube. Setiap tabung dilengkapi dengan rudal dan pintu masing-masing. Selain itu di dalam sprue ada satu rudal yang mirip MiG-21, mungkin Brahmos atau rudal lain, tidak disebutkan dalam instruction, tapi mungkin bisa dimanfaatkan untuk memperkaya diorama. Missile hatch dicetak salam satu part, mempermudah modeler yang ingin membuat Kursk dalam konfigurasi clean. Tapi setiap hatch bisa dipotong dengan mudah untuk membuka semua tabung rudal atau hatch tertentu saja.

Selain opsi missile hatch terbuka diatas, kit ini juga dilengkapi opsi “biasa” kapal selam. Setiap mast dicetak terpisah, modeler bisa memilih konfigurasi extended mast yang sesuai, atau bahkan menyimpan semua mast dan menutup bagian atas sail dengan satu part yang detil. Semua control plane dicetak dalam part terpisah, memperluas opsi pembuatan pose dinamis kapal selam ini. Tersedia part untuk membuat hydroplane dalam posisi tersimpan atau deployed. Hobbyboss menyediakan screw dari PE untuk detail tajam. Namun Hobbyboss juga menyediakan alternatif screw plastik karena tidak semua modeler menyukai PE.

Berbagai opsi seperti missile hatch, control plane terpisah, dan mast terpisah memperluas pilihan untuk membuat pose dinamis Kursk, tergantung imajinasi setiap modeler. Selain itu Hobbyboss juga menyediakan pilihan mudah untuk menyimpan semua detail tadi dan membuat Kursk dalam pose senyap nya. Hobbyboss juga menyediakan PE nameplate K-141 Kursk sebagai sentuhan akhir bagus untuk full hull stand atau waterline diorama.