Revell 1/72 Lancaster B MkI or Mk III (Sold Out)

Sold Out
  • Lancaster
    Lancaster
  • Lancaster clear parts
    Lancaster clear parts
  • Lancaster parts
    Lancaster parts
  • Lancaster wing
    Lancaster wing
  • Lancaster Fuselage
    Lancaster Fuselage

Satu Merlin = Fighter legendaris: Spitfire dan Mustang.

Dua Merlin = Night Fighter/Recce/Precision Bomber legendaris: Mosquito.

Empat Merlin  = Heavy Bomber legendaris: Lancaster.

Lancaster lahir dari kegigihan Avro. Awalnya Avro ditugaskan untuk membuat bomber dua mesin, Manchester. Mendorong bomber berat hanya dengan dua mesin memaksa teknologi saat itu sampai batasnya. Bahkan terlalu memaksa sehingga kedua mesin raksasa untuk Manchester tidak bisa beroperasi dengan handal. Namun Avro melihat potensi disain airframe Manchester untuk menjadi bomber sukses jika dipasangkan dengan empat mesin RR Merlin. Dengan empat mesin, tenaga yang diperlukan dari setiap mesin akan lebih kecil, masih dalam batas operasi normal Merlin yang terkenal handal. Merlin adalah mesin yang bagus, malah terlalu bagus sehingga kebutuhan untuk mesin ini sangat tinggi. Pada awalnya pemerintah Inggris ragu untuk mengalokasikan empat mesin berharga ini untuk sebuah bomber baru yang belum terbukti. Untung saja Avro pantang menyerah, Rolls Royce membantu dengan menyediakan 4 Merlin bagi prototipe Lancaster. Performa prototipe Lancaster sangat memuaskan, sehingga pemerintah kemudian memutuskan untuk memproduksi massal bomber ini walau harus mengalokasikan 4 Merlin yang langka untuk setiap pesawat.

Kombinasi airframe Lancaster dan mesin Merlin bisa dibilang se-sukses Spitfire, Mustang, dan Mosquito. Lancaster mampu terbang jauh sambil membawa muatan berat. Konon Lancaster masih punya tenaga lebih untuk take off dalam kondisi icing di sayap. Sebagai catatan lapisan es yang terbentuk setelah pesawat diparkir di udara dingin bisa merubah profil airfoil, menyebabkan lift menurun dan drag bertambah. Pesawat dengan tenaga mesin seadanya akan celaka saat memaksa take off dalam kondisi icing, tapi Lancaster masih bisa terbang aman. Selain itu Lancaster juga tidak dilengkapi armor dan senapan pertahanan sehebat B-17. Bomber ini memanfaatkan power besar mesin dan konfigurasi aerodinamis superior untuk bermanuver menghindari sergapan fighter lawan.

Sebagai bomber, Lancaster cukup irit awak. Bomber besar ini hanya perlu 7 awak, dan dalam misi tertentu jumlahnya bisa dikurangi lagi. Di ujung paling depan ada bombardier merangkap gunner depan. Lalu di flight deck ada pilot dan flight engineer. Setelah itu ada navigator dan operator radio. Lancaster diawaki flight engineer bukan co-pilot karena pada masa itu Inggris kekurangan jumlah pilot. Pada perkembangan berikutnya, flight engineer dan awak lain dilatih untuk membantu tugas pilot dan bahkan menggantikan pilot yang tewas atau terluka di udara. Hal ini meningkatkan survivabilitas pesawat. Selain itu ada dua gunner untuk mengawaki senapan mesin di turret atas dan ekor. Tail gunner punya peranan penting untuk mendeteksi fighter musuh dan memberikan informasi kepada pilot untuk melakukan manuver menghindar paling efektif.

Disini juga terlihat kelemahan Lancaster berupa tidak ada awak dan senapan mesin di sisi bawah pesawat. Kelemahan ini benar-benar dieksploitasi oleh Luftwaffe dengan sistem senjata “Schrage Musik” berupa kanon yang dipasang pada sudut miring keatas di night fighter. Pilot fighter Luftwaffe bisa menyelinap masuk ke bawah Lancaster yang tidak dijaga turret senapan mesin. Fighter terbang parallel dibawah Lancaster, jadi tidak perlu pembidikan presisi dengan memperhitungkan defleksi seperti pola pencegatan konvensional. Cukup tarik pelatuk untuk mengirim sejumlah besar peluru kanon dengan akurat ke fuselage Lancaster. Beberapa Lancaster dilengkapi turret bawah untuk mencoba mengatasi ancaman ini. Namun hal ini mengurangi performa bomber dan tidak terlalu efektif sehingga tidak diaplikasikan ke semua armada Lancaster. Pada akhirnya disini berlaku pepatah offense in the best defense. Walau banyak dicegat fighter Jerman, sekutu tetap gencar melakukan serangan siang dan malam. Hasilnya produksi fighter Jerman menurun drastis dan suplai bahan bakar mereka pun semakin langka. Semakin sedikit fighter Jerman yang tersedia untuk mencegat Lancaster.

Amerika dan Inggris melakukan tag team untuk menghabisi Jerman. Amerika menyerang dengan B-17 di siang hari, sementara Lancaster Inggris menyerang di malam hari. Kombinasi serangan tanpa henti ini sangat menguras kemampuan  pertahanan Jerman. Taktik serangan dan pertahanan yang dipakai Lancaster pada misi malam hari pastinya berbeda dengan B-17 di siang hari. Pada malam hari tidak ada referensi visual daratan yang bisa diandalkan untuk navigasi ke area sasaran. Untungnya pada saat itu teknologi radio Inggris cukup maju. Inggris mampu membuat radar kecil yang bisa dibawa di pesawat seperti Lancaster. Radar tersebut mampu memetakan kontur daratan sebagai petunjuk navigasi. Selain itu Inggris juga mengembangkan beberapa sistem navigasi radio. Mereka membuat serangkaian pemancar radio dari Inggris yang diarahkan ke area sasaran. Lancaster dilengkapi penerima sinyal navigasi ini yang akan memberikan indikasi bahwa jalur terbang sudah benar dan bahkan bisa memberikan indikasi koreksi lintasan yang diperlukan. Pada malam yang gelap sangat sulit melihat fighter musuh. Beberapa Lancaster dilengkapi radar untuk mendeteksi fighter musuh sehingga pilot bisa melakukan tindakan pertahanan yang paling tepat.

Pada awalnya sistem navigasi dan pertahanan Lancaster bekerja dengan efektif. Bomber bisa terbang dengan akurat ke area sasaran dan fighter musuh bisa dideteksi dalam malam tergelap sekalipun. Namun kemudian Jerman menyadari sistem elektronika ini, dan mereka mulai mengembangkan cara untuk mengatasinya. Mereka berusaha men-jamming sinyal navigasi radio agar Lancaster terbang ke arah yang salah. Night fighter Luftwaffe juga bisa memanfaatkan emisi radar Lancaster untuk membaca posisinya. Tapi prosesnya tidak berhenti sampai disitu, Inggris pun kemudian menyadari perkembanvgan ini dan kemudian mendisain sistem untuk mencegahnya. Pertempuran ini bisa dibilang leluhurnya electronic warfare, Electronic Counter Measures versus Electronic Counter Counter Measures. Pada malam yang gelap visual tidak terlalu berguna. Musuh dilihat dengan gelombang radio dan di sisi lain musuh juga dibutakan dengan gelombang radio.

Salah satu requirement Manchester (leluhurnya Lancaster) yang membuat pusing Avro adalah kemampuan untuk membawa torpedo panjang. Dan Avro berhasil mengatasi tantangan ini sekaligus membawanya ke Lancaster. Berbeda dengan B-17, bomb bay Lancaster besar dan panjang. Mulai dari bawah kokpit sampai nyaris sepanjang fuselage. Ruang dalam bomb bay ini benar-benar kosong tanpa terhalang struktur pesawat. Sehingga selain membawa bom normal, Lancaster mampu membawa bom khusus yang berukuran raksasa.

Adalah Sir Barnes Wallis yang berhasil mendisain tiga bom khusus untuk beberapa misi legendaris Lancaster. Yang pertama adalah bouncing bomb untuk menjebol bendungan. Bendungan adalah struktur yang sangat kuat dan dari atas terlihat cukup tipis, target yang sulit untuk bombardemen udara. Solusinya ternyata unik dan cerdas. Sir Barnes Wallis tidak memaksa menggunakan sistem pemandu radar, optik, laser, dll seperti rudal modern. Teknologi elektronika saat itu belum mampu. Solusinya sepeti ini: Anda pernah melempar batu dengan sudut landai ke kolam? Jika dilempar dengan kecepatan dan sudut yang tepat, batu akan memantul beberapa kali di permukaan air sampai akhirnya tenggelam. Bouncing bomb rancangan Sir Barnes Wallis menggunakan mekanisme yang serupa. Bom berbentuk bundar ini dilepaskan dari Lancaster yang terbang rendah diatas air menuju bendungan. Saat dilepas dalam kondisi yang tepat bom tidak langsung tenggelam, tapi akan memantul beberapa kali di permukaan air sampai menabrak dinding bendungan. Setelah itu bom akan tenggelam menyusuri dinding bendungan. Tekanan air di kedalaman tertentu akan memicu detonator. Tekanan air membantu memfokuskan energi ledakan ke dinding bendungan sehingga beton yang tebal bisa jebol. Beberapa misi dambuster tersebut cukup sukses. Tanpa pemandu rumit, tanpa peledak terlalu banyak, bendungan bisa dibobol.

Bomb bay panjang memungkinkan Lancaster membawa bom raksasa rancangan Sir Barnes Wallis lainnya, yaitu Tallboy. Sesuai namanya, bom ini berbentuk panjang, mampu jatuh dengan kecepatan tinggi untuk menembus armor tebal. Salah satu korban Tallboy adalah battleship raksasa Tirpitz. Jerman menyadari bahwa jumlah kapal Royal NAVY tidak bisa ditandingi, sehingga mereka berusaha membuat kapal dengan kualitas lebih baik seperti Bismarck dan Tirpitz. Serangan udara ke Bismarck adalah satu kasus khusus. Torpedo dari Swordfish sukses menyerang rudder, membuat kapal tersebut berputar di tempat sehingga bisa dikeroyok armada kapal Royal NAVY. Tapi Tirpitz berbeda, Hitler memerintahkan kapal ini untuk bertahan di Norway, hanya keluar untuk mengganggu suplai logistik yang dekat saja. Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi, Inggris memutuskan untuk menetralisir Tirpitz dengan serangan udara saja. Masalahnya bom biasa terbukti tidak efektif menembus armor tebal Tirpitz. Serangan torpedo ke rudder seperti pada Bismarck pun sepertinya kurang efektif karena Tirpitz memang dalam posisi bertahan dan Inggris ingin menghabisi Tirpitz hanya dengan serangan udara. Satu satunya sistem senjata yang sesuai untuk misi ini adalah kombinasi Lancaster dan Tallboy. Beberapa gelombang serangan pun dilaksanakan. Beberapa Lancaster bahkan terbang langsung dari Inggris ke posisi pertahanan Tirpitz di Norway. Jarak yang sangat jauh sambil membawa muatan sangat berat. Lancater mampu menjatuhkan Tallboy dengan akurat ke Tirpitz. Bom ini bekerja sesuai disainnya, mampu menembus armor tebal dan meledak di dalam dengan hasil luar biasa.Tirpitz pun berhasil dinetralisir dengan serangan udara.

Tallboy bukanlah bom terbesar rancangan Sir Barnes Wallis yang mampu dibawa Lancaster, masih ada Grand Slam. Grand Slam yang super berat dijatuhkan dari ketinggian dan akan mencapai target dengan mendekati kecepatan suara. Saat menghantam permukaan Grand Slam tidak langsung meledak, tapi menembus masuk dulu. Di dalam tanah peledak massif Grand Slam mampu menciptakan gempa bumi buatan yang bisa menghancurkan fortifikasi kuat. Salah satu target Grand Slam adalah pangkalan kapal selam Jerman. Kapal selam adalah senjata AL Jerman paling efektif sehingga pangkalannya perlu dinetralisir untuk mengamankan jalur logistik laut sekutu. Masalahnya Jerman pun menyadari hal ini dan mereka memperkuat pangkalan kapal selam tersebut dengan beton super tebal dan kuat. Bombardemen konvensional tidak akan mampu menembus pertahanan tersebut. Amerika seperti biasa memlilih cara brute force untuk masalah ini. Mereka mendisain B-17 khusus yang dijejali sejumlah besar peledak dan diterbangkan dengan remote untuk “kamikaze” ke sasaran. Diatas kertas terlihat bagus, jumlah peledak yang dibawa sangat banyak dan bisa diarahkan dengan akurat ke target. Namun lagi lagi teknologi elektronika pada masa itu belum cukup maju untuk mendukung ide revolusioner tersebut. Pada prakteknya ada banyak step manual berbahaya yang perlu dilakukan sehingga hasilnya kurang handal dan efektif. Sementara Inggris memilih metode yang lebih British. Menggunakan lebih sedikit peledak tapi dipicu di titik yang tepat dalam bentuk bom Grand Slam. Lebih sederhana sehingga lebih handal. Hasilnya Grand Slam yang dikirim Lancaster mampu menembus permukaan beton pangkalan kapal selam Jerman. Lalu meledak dibawah tanah dan menghasilkan gempa bumi kecil yang menumbulkan kerusakan parah di dalam pangkalan kapal selam. Ada satu acara di channel National Geographic yang membahas serangan ini. Menunjukkan betapa tebal beton pangkalan kapal selam tersebut dan sekaligus menunjukkan kerusakan massif di dalam akibat gempa bumi buatan Grand Slam.   

Ada satu fakta menarik lagi, Lancaster tidak hanya mampu membawa bom raksasa tersebut, tapi juga mampu membawanya kembali saat landing. Bom raksasa seperti Tallboy sulit dibuat dan mahal. Sehingga pilot diinstruksikan untuk membawa pulang Tallboy yang tidak jadi dijatuhkan di sasaran. Padahal praktek yang umum adalah membuang persenjataan berat yang tidak terpakai sebelum landing. Bahkan sebagian besar pesawat tempur modern pun harus membuang sisa persenjataan berat sebelum landing. Hal ini diperlukan mengingat maximum landing weight lebih rendah dari maximum take off weight. Selain itu landing adalah proses yang beresiko tinggi. Goncangan saat mendarat dan bom besar adalah dua hal yang kurang cocok digabungkan. Tapi Lancaster berhasil melakukan hal tersebut dengan aman dan konsisten. Salah satu bukti kejeniusan disain bomber tersebut.  

Revell 1/72 Lancaster B MkI or MkIII

Revell Lancaster tidak hanya detail di sisi luar, tapi juga dalam. Tersedia full interior untuk posisi seluruh awak di dalam kabin. Sisi dalam fuselage dilengkapi cetakan detil rangka. Detailing interior akan cukup terlihat berkat clear parts yang jernih.

Kabin bukan satu-satunya detil internal dalam fuselage. Revell juga menyediakan bomb bay lengkap dengan beragam muatan yang sesuai. Bomb bay door tentunya bisa dibuka untuk menunjukkan detail tersebut.

Sebagai bomber mesin 4, sayap Lancaster lumayan besar. Revell menyediakan central box untuk memasang sayap di sudut yang tepat dengan kuat. Tidak hanya fuselage yang memiliki detail internal, Revell juga menyediakan detail mesin lengkap beserta rangka pendukungnya.