Airfix 1/72 F86 vs MiG15 dogfight combo (Sold Out)

Sold Out
  • Airfix 1/72 F86 vs MiG15
    Airfix 1/72 F86 vs MiG15
  • Airfix 1/72 MiG15 fuselage
    Airfix 1/72 MiG15 fuselage
  • Airfix 1/72 MiG15 wing
    Airfix 1/72 MiG15 wing
  • Airfix 1/72 F86 wing
    Airfix 1/72 F86 wing
  • Airfix 1/72 F86 fuselage
    Airfix 1/72 F86 fuselage

First major jet fighter battle.

Pertarungan F-86 vs MiG-15 di Korea adalah demontrasi impresif kemampuan mesin jet pada fighter. Kedua fighter tersebut memakai swept wing yang lebih efektif dan efisien pada kecepatan tinggi. Performa optimum mesin jet bisa dikeluarkan dengan swept wing yang memiliki drag lebih rendah di kecepatan tinggi. Menghasilkan jet fighter yang lebih efektif dari generasi sebelumnya yang memakai mesin piston dan straight wing.

Pada saat F-86 dan MiG-15 dibuat, teknologi mesin jet sudah cukup matang. Satu mesin bisa menghasilkan dorongan cukup besar dan terutama sudah cukup handal. Konsumsi bahan bakar satu mesin lebih sedikit dari dua mesin, menghasilkan mission endurance praktis. Satu mesin berarti frontal area lebih kecil, dengan disain yang baik bisa memiliki drag lebih kecil. Kelebihan lainya dengan satu mesin, distribusi berat fighter lebih terpusat di tengah. Dengan massa yang sama, momen inersia fighter di sumbu roll bisa lebih kecil. Hasilnya adalah performa roll yang lebih baik.

Meskipun terlihat mirip, F-86 dan MiG-15 mempunya karakter yang berbeda. Perbedaan yang paling terlihat adalah persenjataan. F-86 masih dilengkapi arsenal ala WWII yaitu 6 senapan mesin kaliber 12.7mm. Teknologi senapan mesin pada kaliber ini sudah sangat matang, menghasilkan operasi yang cukup handal. Rate of fire ke 6 senapan mesin F-86 cukup tinggi dan lintasan pelurunya bagus, mempermudah pilot F-86 untuk menembak dengan akurat. Sayangnya peluru 12.7mm terlalu ringan untuk menghantam jet fighter pada masa itu. Banyak kasus MiG-15 tetap selamat setelah terkena beberapa peluru 12.7mm.  

Di sisi lain pada awalnya MiG-15 didisain untuk menyergap bomber. Peluru ringan tentu saja tidak sesuai untuk misi ini. MiG-15 dilengkapi sepasang kanon 23mm dan sepucuk kanon 37mm. Arsenal berat ini mampu membuat kerusakan signifikan pada bomber, apalagi fighter yang lebih kecil. Masalahnya rate of fire kanon berat tersebut cukup kecil, mempersulit pilot untuk membidik fighter yang kecil dan lincah dengan akurat.

The origin of F-16, one of the finest fighter ever designed.

John Boyd adalah perwira USAF yang berkontribusi besar bagi pengembangan F-16, salah satu fighter modern terbaik. John Boyd mulai bertugas di USAF sejak akhir WWII dan kemudian menerbangkan F-86 di Korea. Namun karena satu dan lain hal, prestasinya di Korea tidak istimewa. Kemudian John Boyd melakukan sesuatu yang luar biasa saat menerbangkan F-100 Super Sabre sebagai instruktur di Nellis, Top Gun nya USAF (secara teknis justru Top Gun adalah Nellis nya US NAVY). Seperti di Top Gun, pilot USAF dilatih menerbangkan fighter sampai batas maksimum di Nellis. Sebagian besar fighter pilot terbaik USAF pernah berlatih disini. Disni Boyd mengeluarkan tantangan legendaris, 40 second Boyd. Penantang mengambil posisi awal di belakang F-100 Boyd, pada posisi ideal untuk gun kill. Lalu penantang tersebut diberi waktu 40 detik untuk mengalahkan Boyd dalam dogfight. Terlihat mudah bukan, tapi ternyata F-100 milik Boyd bisa secara ajaib menghilang dari depan dan masuk ke posisi untuk menembak penantangnya. Tidak ada penantang yang berhasil menaklukkan 40 second Boyd.

Boyd melakukan aksi luar biasa tadi dengan F-100 standar, tidak ada yang istimewa dengan fighter yang dinaiki Boyd. Tapi Boyd memahami dengan jelas cara memanfaatkan karakteristik F-100 sehingga bisa melakukan manuver yang efektif dalam dogfight.

Setelah dari Nellis, Boyd melakukan sesuatu yang jarang dilakukan fighter pilot lain, yaitu merumuskan pengetahuannya secara matematis. Selain sebagai pilot, Boyd mempelajari banyak bidang ilmu lain untuk membantunya merumuskan pengetahuan tersebut. Setelah berusaha sangat keras, menghadapi banyak tantangan, dan dibantu oleh teman-teman setia, Boyd berhasil merumuskan teori Energy-Manuverability, atau E-M. Teori E-M terlihat sederhana, tapi sebenarnya rumit. Secara sederhana teori ini tentang manajemen energi fighter saat manuver. Bagaimana mempertahankan energi tetap tinggi, dan juga bagaimana cara membuang energi saat dibutuhkan. Energi yang dimaksud disini adalah energi mekanik internal pesawat dalam bentuk energi kinetik (kecepatan) dan potensial (ketinggian). Manajemen energi yang baik dilakukan dalam bentuk serangkaian set manuver yang diperhitungkan dengan cermat. Jika dilakukan dengan tepat, maka fighter akan mampu mempertahankan kecepatannya saat bermanuver tanpa perlu mengeluarkan tenaga mesin secara berlebihan. Speed is Life. Fighter mampu bermanuver untuk mengincar target sambil menghindari ancaman musuh lainnya.

Teori E-M Boyd terbukti di Vietnam. Bukan Boyd sendiri yang membuktikannya, malah sesuatu yang lebih luar biasa terjadi. Seorang pilot F-105, fighter-bomber yang normalnya tidak lincah, mampu menghindari sergapan MiG dan bahkan menembak jatuh musuh yang jauh lebih lincah tersebut. Pilot F-105 tersebut mempraktekkan manuver yang pernah diajarkan Boyd untuk mengoptimasi kemampuan F-105 dengan teori E-M.

Satu hal yang menarik terjadi saat Boyd menggunakan tepri E-M untuk menganalisa kemampuan F-86 vs MiG-15. Boyd berhasil mengumpulkan banyak data akurat tentang kedua pesawat, dan menghitung banyak sekali parameter menggunakan teori E-M. Hasilnya mengejutkan, MiG-15 yang memakai lebih sedikit armor ternyata lebih unggul dari F-86 menurut teori E-M. Hal ini cukup mengejutkan mengingat secara aktual F-86 cukup imbang melawan MiG-15. Apakah itu karena kualitas pilot Amerika yang jauh lebih baik?

Untungnya Boyd tidak berhenti sampai disana, dia mengembangkan teori lain yaitu OODA Loop (Observe Orient Decision Action). Pertempuran adalah iterasi dari keempat proses tersebut. Siapa yang bisa melakukan iterasi tersebut dengan lebih cepat, punya kemungkinan menang lebih besar. Siapa yang bisa membaca situasi dan memposisikan diri lebih cepat dan tepat akan menang. Siapa yang bisa melakukan proses observasi ulang setelah aksi terakhir dengan lebih cepat dan akurat akan menang. Ternyata disinilah F-86 memiliki keunggulan terhadap MiG-15 yang lebih lincah. Canopy F-86 lebih bersih dari MiG-15, mempermudah pilot membaca situasi. Selain itu kontrol F-86 dilengkapi hydraulic assist, secara kasar mirip dengan power steering pada mobil. Dengan bantuan ini, pilot F-86 mampu melakukan transisi antar manuver dengan lebih mudah. Pilot F-86 mampu mengulangi banyak iterasi OODA Loop dengan lebih cepat dan mudah.   

John Boyd bekerjasama dengan Harry Hillaker, chief designer F-16 untuk membuat fighter terbaik. Ukuran sayap, tenaga mesin, fuel fraction, wing loading, drag, dan berbagai parameter lainnya dioptimasi dengan teori E-M. Sementara F-16 dilengkapi dengan canopy paling bersih nyaris tanpa framing untuk observasi visual terbaik. Kontrol F-16 dipermudah dengan FbW, memungkinkan pilot untuk melakukan transisi antar manuver dengan lebih mudah. Bahkan poin terakhir ini adalah milai plus besar yang membuat evaluator LWF lebih memilih YF-16 daripada YF-17. Lahirlah fighter legendaris yang didisain dari dua teori hebat, E-M dan OODA Loop yang terinspirasi dari duel F-86 vs MiG-15.

Airfix 1/72 F-86 vs MiG-15

Airfix F-86 vs MiG-15 alternatif bagus untuk mengabadikan momen pertarungan jet fighter generasi awal. Kedua kit ini termasuk keluaran baru Airfix dengan recessed panel line dan detail yang lebih lengkap.

Kedua kit dilengkapi kokpit yang cukup layak untuk skala 1/72. Instrument dan side panel direpresentasikan dengan decal. Tersedia pilot figure untuk menambah detail. Fuselage dirakit dari dua part besar kiri-kanan. Untungnya Airfix menyediakan nose intake dalam satu part utuh untuk menghindari seam yang sulit dirapikan di area ujung ini. Airbrake bisa dipasang dalam posisi terbuka dengan detail aktuator dan well yang bagus. Instruction sheet Airfix juga menunjukkan dengan jelas sudut pemasangan airbrake dan landing gear door yang akurat.

Kanon besar MiG-15 dicetak dengan part terpisah untuk resolusi detail lebih tajam. Tersedia dua tipe drop tank untuk dipasang di bawah sayap. Airfix melengkapi MiG-15 ini dengan decal Korea Utara.

Kit F-86 sepertinya keluran lebih baru dengan fitur yang lebih mengesankan. Jika dilihat lebih teliti, recessed panel line pada F-86 dicetak lebih tipis dan tajam. Roda pendarat dicetak sedikit kempes, mirip dengan aslinya. Opsi load out lebih luas dengan bom dan drop tank. Stencil decal pada F-86 termasuk lengkap dan cukup tajam.