Revell 1/144 Eurofighter Typhoon

Price:180,000IDR
  • Revell 1/144 Typhoon box
    Revell 1/144 Typhoon box
  • Revell 1/144 Typhoon parts
    Revell 1/144 Typhoon parts
  • Revell 1/144 Typhoon parts 2
    Revell 1/144 Typhoon parts 2
  • Revell 1/144 Typhoon cockpit
    Revell 1/144 Typhoon cockpit
  • Revell 1/144 Typhoon Weapons decal
    Revell 1/144 Typhoon Weapons decal
  • Revell 1/144 Typhoon Decal
    Revell 1/144 Typhoon Decal

Silahkan WA ke 085693029246 atau via Tokopedia

Kelahiran Eurofighter Typhoon 

Eurofighter Typhoon lahir di Eropa pada masa perang dingin. Berbeda dengan Amerika yang berada cukup jauh, negara-negara Eropa barat hanya terpisah oleh Fulda Gap dengan Soviet. Serangan massif Soviet bisa datang dengan cepat, hampir tanpa peringatan. Oleh karena itu negara-negara Eropa barat butuh pesawat tempur yang bisa segera take off, cepat menanjak ke ketinggian operasional, menghadang elemen udara ataupun menghabisi elemen darat musuh.

Membuat pesawat seperti ini tidaklah mudah dan terutama tidak murah. Salah satu komponen biaya terbesar adalah RnD. Biaya ini harus dikeluarkan di depan sebelum ada hasil apapun. Selain itu biaya RnD ini akan didistribusikan ke setiap pesawat, menempati porsi signifikan di unit cost. Semakin besar volume produksi, maka komponen biaya RnD ini akan semakin kecil.

Keperluan yang serupa membuat Inggris, Jerman Barat, Perancis, Italia, dan Spanyol bersatu membuat pesawat tempur terbaru. Mereka menamakan pesawat ini dengan ECA (European Combat Aircraft). Selain itu banyak negara yang terlibat berarti banyak juga pesawat yang akan diproduksi. Biaya RnD yang besar bisa disebar ke lebih banyak pesawat. Unit cost pesawat bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas.

Kerjasama ini tidak bertahan lama. Seiring waktu perbedaan requirement semakin tajam. Perancis menginginkan pesawat ommnirole, dengan kemampuan air to air dan air to ground yang sama bagusnya. Perancis juga ingin pesawat yang bisa dioperasikan di kapal induk. Requirement ini berseberangan dengan negara-negara lain yang menginginkan pesawat air superiority terbaik dengan kemampuan air to ground. Kerjasama ini pun pecah di awal. Perancis melenggang sendiri dengan Rafale. Sedangkan Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol bersatu membuat Eurofighter Typhoon. 

Konfigurasi dan performansi

Disainer negara-negara Eropa Barat pada waktu itu menilai konfigurasi delta-canard, single tail fin, dan twin engine adalah yang terbaik untuk menghadapi serangan mendadak Soviet. Konfigurasi ini tidak butuh landasan terlalu panjang untuk take off. Selain itu manuverabilitas dan daya gotong senjata pun cukup oke. Typhoon dan Rafale didisain dengan konfigurasi dasar ini.

Kebutuhan spesifik yang berbeda menghasilkan disain yang berbeda pula. Jika Rafale memakai close coupled canard, Typhoon sebaliknya. Canard pada Typhoon ditempatkan jauh di depan sayap utama. Konfigurasi seperti ini punya tujuan tersendiri yang sesuai dengan peran utama Typhoon sebagai pesawat air superiority. Dengan konfigurasi ini Typhoon menjadi sangat lincah dengan pitch authority sangat bagus. Penulis bukan pilot, apalagi pilot pesawat tempur, dan penulis juga pesimis akan pernah merasakan menerbangkan Typhoon. Tapi dari video yang di rilis bebas terlihat kelincahan istimewa pesawat ini. Selain itu anda bisa mencoba menerbangkan Typhoon di beberapa game. Game favorit saya adalah Ace Combat. Ace Combat mungkin bukan yang paling realistis, tapi sudah cukup untuk menggambarkan secara kasar performa pesawat ini. Di game ini Typhoon termasuk yang paling lincah, menggerakkan hidung pesawat pun sangat ringan dan mudah. Menembak pesawat lain dengan kanon cukup mudah di pesawat ini.

Typhoon memang sangat lincah, tapi pesawat ini bisa diterbangkan dengan aman. Saat pilot mengalami disorientasi, tersedia sebuah tombol untuk auto recovery. Saat tombol ini ditekan, Typhoon akan recover ke posisi moderate climbing yang aman secara otomatis.

Kelincahan Typhoon membuatnya sering beroperasi di gravitasi tinggi sampai 9G dengan membawa beban (bahan bakar dan rudal) berat. Pola operasional seperti ini butuh airframe yang kuat dan ringan. Typhoon menggunaan titanium untuk struktur yang perlu kekuatan ekstra dan tahan panas, seperti tempat mesin di bagian belakang fuselage. Titanium diolah dengan menggunakan metode super plastic forming. Metode ini bisa menghasilkan bentuk kompleks dengan sambungan minimal. Sambungan minim berarti kekuatan maksimum dengan bobot minimum. Carbon fiber dan alumunium digunakan secara ekstensif di area lainnya. Uniknya penyatuan komponen banyak menggunakan banyak lem khusus. Rivet hanya digunakan di area tertentu saja. Hasilnya adalah struktur yang kuat dan ringan. 

Aerodinamika Typhoon yang bagus juga didukung oleh sepasang mesin yang kuat, EJ200. Dengan mesin ini Typhoon bisa melakukan supercruise, terbang supersonic tanpa bantuan afterburner. Afterburner memang memberikan daya dorong ekstra, umumnya dibutuhkan pesawat lain untuk menembus kecepatan suara. Akan tetapi afterburner membakar banyak bahan bakar dalam waktu singkat. Sehingga walaupun bisa menembus kecepatan suara, pesawat lain tidak bisa mempertahankan kecepatan supersonic cukup lama. Tanpa perlu afterburner, pilot Typhoon bisa dengan fleksibel memasuki kecepatan supersonic. Kecepatan supersonic ini dibutuhkan untuk peperangan air to air BVR (Beyond Visual Range). Semakin cepat pesawat peluncur rudal, maka energi kinetik rudal BVR pun lebih tinggi. Energi kinetik ini bisa ditranslasikan menjadi jarak lebih jauh atau manuverabilitas rudal ekstra. Jadi semakin cepat pesawat peluncurnya, semakin tinggi peluang rudal BVR mengenai targetnya.

Dengan manuverabilitas bagus dan supercruise, Typhoon diharapkan bisa merajai pertarungan udara WVR (Within Visual Range) ataupun BVR (Beyond Visual Range).

Situational awareness

Selain harus memiliki performa yang bagus, untuk merajai pertempuran udara pesawat tempur butuh situational awareness yang bagus pula. Typhoon mendapat banyak data untuk situational awareness dari sensor internal, pod eksternal, ataupun dari datalink.

Sensor internal utama Typhoon sama seperti pesawat tempur lainnya, yaitu Radar. Typhoon versi awal dilengkapi mechanically scanned radar CAPTOR-M. Radar ini masih menganut sistem konvensional yaitu scanning dilakukan dengan mengarahkan fisik antenna. Radar ini kemudian digantikan dengan Active Electronically Scanned Array (AESA) CAPTOR-E. Cara kerja AESA yang lebih detail bisa anda lihat di artikel kami tentang USS Cole disini. Sistem AESA tidak hanya mengandalkan sebuah antenna radar tunggal, tapi mensinkronkan proses transmit/receive dari sejumlah besar elemen antenna.

Radar AESA memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem mekanik konvensional. Radar beam bisa diarahkan lebih cepat dan fleksibel (agile beam steering) secara elektronik. Hasilnya radar ini bisa mendeteksi dan tracking lebih banyak target. Selain itu radar AESA ini juga memiliki kemampuan LPI (Low Probability of Intercept). LPI berarti emisi radar lebih sulit dideteksi lawan. Typhoon bisa menggunakan radar aktif untuk mendeteksi lawan dengan kemungkinan kecil lawan bisa tahu sedang di deteksi.

Radar AESA biasanya dipasang mati ke rangka pesawat. Proses scanning bisa dilakukan dengan cepat secara elektronik. Akan tetapi cara seperti ini hanya bisa mengcover area 120 derajat di depan. Pada CAPTOR-E, array AESA dipasang dalam sebuah gimbal, sehingga bisa digerakkan untuk mengcover area 180 derajat di depan. Gimbal AESA ini adalah sebuah prestasi engineering tersendiri. Jika sistem mekanik konvensional hanya butuh kabel untuk satu antenna transmit/receive. AESA butuh jalur untuk puluhan bahkan ratusan modul transmit receive. Semua jalur ini harus bisa dilewatkan melalui gimbal yang harus bisa bertahan di manuver 9G pesawat ini.   

Di depan canopy sebelah kiri ada sebuah “bola mata”. Bola mata ini adalah sistem PIRATE (Passive IR Airborne Tracking Equipment). Nama PIRATE mungkin dipilih karena bentuknya memang mirip mata bajak laut. PIRATE menyediakan alternatif lain yang lebih aman bagi pilot untuk mendeteksi lawan. Sistem ini bersifat pasif mendeteksi emisi IR lawan. Sehingga Typhoon bisa mendeteksi lawannya tanpa takut ketahuan. Sistem ini juga bisa memberikan identifikasi yang lebih jelas dari radar di jarak jauh. Sehingga pilot Typhoon bisa dengan yakin melepas rudal BVR dari jarak jauh tanpa takut salah menembak kawan atau sipil.

Typhoon juga dilengkapi sistem DASS (Defence Aid Sub System) untuk pertahanan diri. Sensor sistem ini terdiri dari array MWS (Missile Warning System), RWR (Radar Warning Receiver), dan LWR (Laser Warning Receiver). Ancaman yang terdereksi bisa dinetralisir oleh ECM (Electronic Counter Measures), Chaff, Flare, ataupun towed radar decoy.

Diluar semua sensor internal diatas, Typhoon juga bisa menggotong berbagai sensor/targeting pod di pylonnya. Link 16 juga tersedia untuk berbagi informasi target dengan kawan.

Semua sistem diatas menghasilkan data yang banyak. Data yang banyak ini memang diperlukan untuk situational awareness yang baik. Akan tetapi terlalu banyak data bisa mengalihkan konsentrasi pilot. Pilot bisa terlalu sibuk mengolah data tanpa menyadari ancaman sebenarnya. Oleh karena itu Typhoon dilengkapi sistem AIS (Attack Identification System). AIS akan menintergrasikan semua data tadi, memberikan gambaran lengkap dan sederhana kapada pilot. Sehingga pilot bisa fokus menghadapi ancaman sebenarnya.

RCS Reduction

Typhoon memang bukan termasuk pesawat stealth, akan tetapi RCS pesawat ini lebih kecil dari tampilannya. Intake funnel pesawat ini dibentuk sedemikian rupa untuk menyembunyikan compressor blade, sumber RCS terbesar di area frontal. Selain itu pesawat ini juga menggunakan material komposit secara ekstensif dan lapisan RAM di titik strategis untuk mereduksi RCS. Posisi canard dan elevon pun dikontrol otomatis untuk mereduksi RCS.

Kelincahan, supercruise, sensor pasif, dan reduksi RCS membuat Typhoon masih punya gigi di era pesawat stealth macam F22 Raptor. Diatas kertas Raptor memang memiliki berbagai kelebihan dari Typhoon. Tapi dalam sebuah latihan, Typhoon pernah mengalahkan Raptor.  

Weapons

Typhoon dirancang untuk merajai pertempuran udara dari BVR sampai WVR. Untuk peperangan BVR, Typhoon dilengkapi dengan rudal AIM-120 AMRAAM dan MBDA Meteor. Target dideteksi dengan radar CAPTOR dan jika diinginkan bisa diidentifikasi lebih detail dengan PIRATE. Rudal BVR ini memang berukuran cukup besar, tapi empat buah bisa dibawa secara semi recessed di bawah fuselage. Sistem semi recessed ini bisa mereduksi drag dan RCS sewaktu membawa rudal BVR. Lebih banyak rudal BVR juga bisa dibawa di beberapa pylon bawah sayap.

Target yang masuk ke jarak dekat akan dihadang oleh rudal Sidewinder, ASRAAM, dan IRIS-T. Rudal ini bisa diluncurkan secara off boresight dengan bantuan HMSS (Helmet Mounted Symbology and Sight).

Untuk jarak lebih dekat lagi tersedia sepucuk kanon Mauser BK27. Kanon ini dilengkapi 150 butir peluru 27 mm yang bisa dimuntahkan 1700 rpm. Rate of fire maksimum kanon ini memang masih dibawah Vulcan M61A1 20mm. Akan tetapi sistem gatling M61A1 perlu waktu untuk mencapai rate of fire maksimumnya. Sedangkan BK27 bisa langsung mencapai rate of fire maksimum, memuntahkan peluru 27mm yang lebih lethal. Efektifitas kanon ini juga meningkat jauh karena kelincahan Typhoon.

Typhoon juga mampu melaksanakan misi air to ground. Target yang dipertahankan dengan baik bisa dihancurkan dari jarak jauh dengan rudal stand off macam Storm Shadow dan Taurus. Serangan presisi bisa dilakukan dengan efisien menggunakan berbagai varian LGB (Laser Guided Bomb). Target yang lebih kecil bisa dieliminasi dengan rudal Brimstone. Dimensi rudal Brimstone ini mirip dengan Hellfire, cukup kecil untuk bisa diangkut sekaligus tiga dalam satu pylon. Hulu ledak rudal ini cukup kecil dan akurasi nya juga tinggi, sehingga bisa mereduksi collateral damage.

Jangkauan Typhoon bisa diperbesar dengan bantuan drop tank di centerline dan under wing pylon. Penggunaan CFT (Conformal Fuel Tank) juga sedang diuji untuk Typhoon.

Distributed production

Sebagai proyek gabungan beberapa negara, proses produksi Typhoon cukup unik. Informasi lengkap tentang proses produksi ini bisa ditonton di National Geographic – Megafactories : Eurofighter Typhoon. Yang menariknya di video ini pembuatan Typhoon bisa disamakan dengan pembuatan mokit. Empat bagian besar Typhoon dirakit secara terpisah di Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris. Lalu keempat bagian tersebut dikirim ke masing masing negara untuk final assembly. Hebatnya keempat bagian itu bisa pas dengan presisi walaupun dirakit terpisah, tidak perlu amplas dan dempul seperti mokit hehehe. Metode distributed production seperti ini mampu membuka lapangan kerja yang merata di keempat negara. Typhoon memang mahal, tapi uang tersebut dibelanjakan ke industri dalam negri juga, membuka banyak lapangan kerja high tech di dalam negri. Jadi secara overall sebenarnya Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol sangat diuntungkan oleh proyek Typhoon ini.

Export customers

Selain digunakan keempat negara tersebut, Typhoon juga diekspor ke negara lain. Austria, Saudi Arabia, dan Oman termasuk pengguna pesawat ini.

Typhoon juga ditawarkan ke Indonesia. Konsorsium Eurofighter sampai memboyong mock up Typhoon ke Bandung dan mengadakan beberapa seminar. Tidak hanya sebagai pembeli, Indonesia pun ditawarkan untuk memproduksi conformal fuel tank untuk pasar internasional dan juga merakit sendiri Typhoon yang dipesan. Ini adalah peluang emas bagi negara kita. Investasinya memang sangat besar, tapi TNI AU bisa dapat pesawat yang mumpuni. Dan terutama bisa membangkitkan industri kedirgantaraan kita. Bisa menarik lagi banyak engineer aeronautik jenius kita yang terpaksa bekerja di luar karena tidak adanya lapangan kerja di dalam negri.  

Revell 1/144 Typhoon.

Pabrikan mokit biasanya lebih serius saat mereka membuat replika dari pesawat negara mereka sendiri. Ada kebanggan tersendiri bagi mereka. Bagi yang pernah membuat Tamiya 1/72 Zero, Hasegawa 1/72 Mitsubishi F2, Tarangus 1/48 SAAB Viggen, dan Academy 1/48 T50 akan mengerti maksud saya. Revell adalah pabrikan mokit dari Jerman, dan saya sangat puas sewaktu membuat 1/72 Eurofighter dan 1/144 TF-104G Starfighter. Mari kita lihat apa yang Revell berikan di mokit yang termasuk agak mahal di 1/144 ini.

Pertama kali membuka kotak mokit ini dan melihat instruction sheet saya merasa tertipu. Saya pernah membuat Revell 1/72 Typhoon, dan instruction sheet di mokit 1/144 ini terlihat mirip sekali dengan versi 1/72 nya. Jangan jangan instruction sheet mokit ini tertukar dengan 1/72. Setelah mempelajari lebih teliti lagi ternyata benar ini untuk 1/144. Yang membuat shock adalah construction step yang sampai 24 tahap!!!!. Jauh lebih banyak dari mokit 1/144 bahkan 1/72 lainnya. Step yang panjang ini memang dibutuhkan menangkap detail dari bentuk rumit Typhoon.

Part count mokit ini cukup tinggi, di grup dalam lima sprue. Satu sprue khusus untuk load out dan satu untuk transparent parts. Mokit ini sudah menganut aliran recessed panel line. Panel line ini memang masih terlalu tebal, tapi termasuk sudah bagus untuk mokit 1/144.

Detail kokpit mokit ini cukup lengkap. Tersedia cockpit tub, control stick, instrument panel, dan ejection seat. Detail ini memang sederhana tapi cukup lengkap. Selain itu tersedia petunjuk pengecatan untuk menghasilkan replika kokpit yang cukup akurat di 1/144. Detail ini ditutup oleh canopy yang jernih walaupun agak tebal.

Detail di area lain cukup memuaskan. Tersedia relief turbine blade di dalam nozzle. Landing gear berukuran cukup tipis dan detail landing gear bay juga cukup lengkap.

Dengan mokit ini anda bisa membuat Typhoon dalam konfigurasi air to air lengkap. Tersedia empat buah rudal BVR AMRAAM dan Meteor. Sepasang Sidewinder dan IRIS-T juga tersedia dalam bentuk cukup bagus. Seperti di box art nya, Revell juga menyediakan sepasang drop tank. Yang membuat speechless adalah halaman terakhir instruction sheet. Disini ternyata ada petunjuk pemasangan decal untuk semua rudal diatas!!!!. Iya, decal untuk marking rudal, sesuatu yang hampir tidak pernah ada di mokit 1/144 lain, bahkan di 1/72 pun hal ini termasuk langka. Masalahnya ada di ukuran yang kecil dan bentuk yang rumit. Perlu teknik khusus dan decal softener untuk memasang decal dengan benar di sini.

Revell menyediakan dua opsi marking, untuk RAF dan Luftwaffe. Marking disini sangat ekstensif untuk 1/72. Ehh lupa ini mokit 1/144. Tapi memang untuk 1/72 pun marking sudah ekstensif, apalagi untuk 1/144. Karena ukuran decal yang kecil, sebaiknya pastikan permukaan glossy dan gunakan decal softerner yang sesuai untuk menghindari silvering.

Overall mokit ini memang relatif mahal untuk 1/144. Part count tinggi, detail tajam, dan marking ekstensif adalah potensi mokit ini. Modeler yang sudah berpengalaman bisa mengoptimasi potensi mokit ini menjadi replika mungil tapi akurat dan detail.

Silahkan WA ke 085693029246 atau via Tokopedia